Laman

Minggu, 27 Juni 2010

25 minutes #5 (end)

20 April 2010, pukul 18.35

Helena belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Sementara aku masih ragu akan pergi atau tidak. Sungguh aku belum sanggup melihat lelaki yang amat kucintai bersanding dengan wanita lain dipelaminan.

Tak berapa menit kemudian Helena datang dan terkejut melihatku yang masih mengenakan piyama biru favoritku.

“Kau belum dandan?? Ya ampuuun ki....” ucap Helena terkejut.

“na... aku gak bisa pergi. Aku tidak sanggup! Aku sayang sama diriku sendiri, na... aku tidak mau menyakiti hatiku sendiri dengan ku pergi kesana.”

“Kiki... aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Aku mengerti betul apa yang kau rasakan. Tapi apa kau tak ingin melihat Gerald untuk yang terakhir kalinya? Setelah ini kau boleh mengasingkan diri lagi, pergi kemana kek buat refresh otakmu dari lelaki brengsek itu. Terlebih kau belum mendapat penjelasan tentang semua ini dari Gerald, mungkin disana kau akan mendapatkan penjelasan tentang semua ini.”

“Okeh...aku pergi. Smoga Tuhan menguatkanku di sana, na”

Akupun kemudian mengganti bajuku dengan dress hitam yang dibelikan oleh Helena kemarin dan sedikit memoles wajahku seadanya. Kata Helena tidak baik jika terlalu menor.

“jangan lupa bawa tisue!” pesan Helena sambil nyengir.

Jarak mobil kami sudah semakin dekat dengan Hotel tempat pernikahan itu berlangsung. Jantungku berdegub semakin kencang, tanganku berkeringat saat mobil Helena memasuki lapangan parkir Hotel.

Helena kembali meyakinkanku untuk turun. Dan akupun turun dari mobil dengan dada yang tak berhenti berdebar. Jika bisa kupinjamkan jantung ini pada Helena akan ku pinjamkan agar aku tak lagi merasakan degubannya yang semakin menjadi-jadi.

Kami sampai pukul 19.35 di hotel tempat acara pernikahan itu berlangsung.

Wangi bunga melati langsung menyeruak ke hidungku saat aku melangkahkan kakiku ke dalam aula Hotel ini. Berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus-ratus mata tertuju padaku. Ada yang melemparkan tatapan miris kepadaku, ada juga yang tersenyum, menahan tawa. Kuremas tangan Helena untuk menahan sakit hatiku sesuai dengan pesan Helena sewaktu kami di mobil tadi.

Di depan sana kulihat Gerald dengan gagah mengenakan tuxedo putihnya sementara Andrea mengenakan gaun pengantin putih dengan kristal swarowsky yang anggun. Sepertinya pernikahan ini direncanakan dengan sangat matang.

Aku mencoba memaksakan senyumku mengembang melihatnya disana. Walau hati ini bagai tertusuk krisnya mpu gandring. Kulihat mereka tersenyum bahkan tertawa meluapkan kebahagiaan mereka sebagai suami istri yang sah. Aku dapat membayangkan bagaimana mereka bersetubuh dengan halal. Sementara aku selama ini tak halal untuknya.

Aku tak dapat menafikkan bahwa wajahku pucat pasi melihat kejadian di hadapanku. Hatiku bagaikan daging ham dimulut baunya, digigitnya hatiku, dikunyahnya aku hingga lumat....lalu ditelannya sesuka hatinya.

Aku tak ada bedanya dengan seekor keledai ditengah kumpulan kuda pacuan, tak berarti apa-apa kecuali sebagai bahan tertawaan mereka. Bibirku kelu, kaku, beku, atau apalah itu namanya. Aku tak sanggup lagi berkata. Lututku lemas. Pipiku memerah seolah habis tertampar tangan lentik wanita yangbersanding dengannya itu. Aku rapuh berada disini.

Aku masih berdiri disini berharap ia kan berbalik menoleh ke arahku dan berlari mengejarku. Tapi itu hanyalah kejadian yang berada dalam ruang imajinasiku saja. Pada kenyataannya aku hanya dapat mematung disini melihatnya tersenyum bahagia dengan wanita itu. Wanita yang jauh lebih sempurna dariku. Wanita yang banyak didambakan lelaki-lelaki yang ada.

Ada sesal yang menyertai kehadiranku malam ini. Betapa bodohnya aku datang kepernikahan mantan pacarku, atau lebih tepatnya (masih) pacarku. Aku hanya akan menambah luka baru dalam hatiku padahal lukanya yang dulu bahkan belum sembuh. Perih.

Berulang kali ku coba memutar fikirku guna meluruskan hatiku. Berulang kali kucoba berkata bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tapi berulang kali juga kutersakiti karena tersadar bahwa semua ini nyata adanya. Aku tidak dapat lagi bertahan lebih lama disini.

Aku berlari pergi meninggalkan ruangan itu dan masuk ke dalam mobil. Saat ini sepertinya mobil adalah tempat persembunyianku yang paling aman untuk menangis. Dan aku tertunduk menangis disana.

Setelah 5 lembar tisue kuhabiskan untuk menyeka ingus dan airmataku, terdengar suara kaca mobil diketuk pelan. Aku mengangkat wajahku melihat keluar.

Sesosok pria bertuxedo putih tengah berdiri disana. Terlihat begitu tampan dari biasanya.

Aku kemudian membuka pintu mobil. Dalam hatiku bertanya 'untuk apa dia ada di sini? Untuk melihatku menangis dan kemudian mencibirku?'

“Kiki...” sapanya.

“Untuk apa kau kesini?? puas kau melihat ku seperti ini?? Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama disana namun ku tak sanggup melihat semua ini, Ger!” aku lagi-lagi menundukkan wajahku. Aku tak sanggup melihatnya dengan pakaian pengantinnya itu.

“Aku ingin menjelaskan semuanya, ki. Boleh aku masuk?”

Aku mengangguk. Dan ia pun masuk dan duduk di tempat duduk pengemudi di samping kananku.

“Kenapa kau tidak datang di kedai kopi waktu itu? Aku menunggumu” tanyanya.

“Aku datang Ger! 25 menit setelah kau pergi.”

Ia berbalik memandangiku, menatap begitu dalam ke dalam mataku. Aku tertunduk, tapi masih menatapnya melalui celah-celah rambutku.

“Sungguh?? Aaarght.... kalau saja aku menunggumu lebih lama...” sesalnya. “Aku tidak menginginkan pernikahan ini ki... kau ingat saat kita terakhir kali di bukit seminggu yang lalu?” ia manatapku dan melanjutkan kembali perkataannya. “Itu hari dimana aku melamar Andrea.”

Aku ternganga kaget. Dia menyetubuhiku di hari yang sama dengan pelamarannya dengan wanita itu.

“...” aku tak dapat berkata apa-apa. Masih terdiam terkejut dengan pengakuannya.

“Kejadian ini bermula 1 bulan yang lalu setelah kau berangkat ke luar kota mengunjungi kakakmu setelah aniversarry ke-4 kita. Aku menghadiri Ulang tahun Uky saat itu, aku diperkenalkan dengan Andrea. Saat itu aku mabuk berat, ki.... kejadian itu tak dapat terelakkan lagi, aku bersetubuh dengan andrea.”

Kali ini aku benar-benar tak sanggup menahan airmataku lebih lama. Aku menangis sejadi-jadinya. Dengan respon ia memelukku menenangkanku. Aku menepiskan tubuhnya dariku, ada rasa jijik berada dipelukannya.

“Sory ki... aku hanya ingin berkata jujur. Aku tak mau lebih lama lagi membohongimu.”

“Aku betul-betul tak menyangka kau sekejam ini, ger!” ucapku menyeka airmataku. “dan Andrea hamil oleh perbuatanmu?” sambungku menanyakan pertanyaan yang sebenarnya telah ku ketahui jawabannya.

Ia mengangguk tanpa berkata.

“Aku menunggumu lama di kedai itu, tapi kau tak juga datang. Padahal aku berjanji jika kau datang aku akan membatalkan pernikahan sinting ini.” akunya.

Lagi-lagi aku tersentak mendengar pengakuan itu meluncur dari mulutnya. Aku terlambat 25 menit. Jika saja saat itu aku mengalahkan egoku dan pergi menemuinya lebih cepat, mungkin aku tak duduk disini berlinangan airmata.

Ia mencoba menggenggam tanganku, tapi ku tepiskan. Aku jijik jika membayangkan ia bersetubuh dengan Andrea disaat aku tengah bersedih merawat kakakku yang sakit parah di luar kota.

“Kenapa kau tega sekali denganku, Ger??? Salahku apa??? Aku kurang baik apa?? kenapa kau bisa-bisanya menghianatiku padahal kau tahu saat itu aku sedang bersedih karena kakakku. Kau jahat, ger!”

“Sory Ki!! aku memang brengsek. Aku tak pantas untukmu.”

“Mulai sekarang anggap aku tak pernah ada. Anggap kita tak pernah saling mengenal. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Pergi dari sini!” ucapku tegas.

“Ki... please....maafkan aku.”

“Asal kau tahu. Sudah cukup aku kau sakiti. Turun kau dari mobil ini. Aku tak ingin melihat mukamu lagi!” aku mulai muak melihatnya.

Ia turun. Seiring turunnya ia ku putuskan untuk melupakannya selama-lamanya. Aku tidak ingin menyesali 25 menit keterlambatanku waktu itu. Itu bukan kesalahan tapi jalan Tuhan untuk memisahkanku dengannya, jalan terbaik yang diberikan Tuhan untukku.

Aku menenangkan hatiku kemudian menyeka air mataku lalu memperbaiki riasanku. Sesuai pesan Helena tadi aku membawa alat riasku. Aku turun dan memasuki gedung itu lagi.

Kukembangkan senyumku walau pahit, kulangkahkan kakiku masuk.

Sejak saat ini takkan ada lagi Gerald. Aku akan bertekad melupakannya. Aku bukan wanita lemah yang terus menangisi lelaki brengsek seperti dia. Aku harus tegar.

Tuhan kuatkan aku melalui hari-hariku selanjutnya. Semoga aku bisa bertahan.

***

END

Minggu, 23 Mei 2010

25 Minutes #4

Hari pertama setelah kejadian itu aku berharap ia akan menelponku dan menjelaskan alasan sebenarnya. Tapi tidak juga ia lakukan itu.

Air mataku masih saja belum bisa berhenti mengalir. Kalau saja air mata ini ditampung, mungkin banyaknya sudah seperti kolam ikan dibelakang rumahku.

Aku merebahkan tubuhku di kasur yang berserakan tisue-tisue yang basah oleh air mata dan ingusku. Tak sengaja mataku menghampiri sebuah novel tebal bersampul hitam bertuliskan “twilight” oleh Stephenie Meyer. Sekelebat memori tentang lelaki sadis itu pun kembali menyeruak di dalam otak.

Saat itu Anniversary kami yang ke-4, sebulan yang lalu. Ia menghadiahiku novel itu. Dan aku menghadiahinya sebuah asbak berlogokan “Manchaster United” club sepak bola favoritnya.

“aku tahu kamu lagi nyari novel ini kan?? disini emang blum available. Aku sengaja pesan lewat on-line shop. Aku juga udah booked yang “new moon” buat kamu. Katanya bulan depan kalau sudah terbit mereka langsung kabarin aku, dan aku langsung kasih ke kamu.” ucapnya menggebu-gebu.

“iya... makasiih!” jawabku seadanya.

Janji itu belum ia tepati hingga kini, bahkan mungkin ia telah melupakan janji itu semenit setelah ia mengucapkannya.

Mengingat memori itu membuat air mata ini mengalir lagi. Ia benar-benar mampu menguras air mataku. Sedang ia disana mungkin tengah sibuk-sibuknya mengurus penikahan sampahnya itu. Pasti tak sedikitpun dibenaknya terlintas diriku disini yang menangis karenanya.

Esok paginya ia menelponku. Telponya yang pertama, tak ku angkat. Telponnya yang kedua juga tak ku angkat, hingga telponnya yang kelima kalinya aku baru bisa menetapkan hatiku untuk mengangkatnya.

Ia memintaku untuk menemuinya pagi ini di sebuah kedai kopi, kedai kopi yang sebenarnya jarang ia kunjungi.

Hatiku ingin sekali menjerit dan berteriak “aku akan kesitu...” tapi rupanya hati ini dikalahkan oleh ego dan tingginya harga diri -aku menolak ajakannya.

“Aku akan terus menunggu disini sampai pukul 5 sore ini, kalau-kalau kau berubah pikiran, datanglah... Aku memakai baju warna biru.” katanya berharap aku kan mengubah pikiranku.

“terserah... sampai kapan pun kau menungguku di situ, aku tak akan pernah datang. Bukannya malam itu kau telah membuangku? Dan asal kau tahu, sejak saat itu aku telah membunuh perasaanku padamu.” ungkapku tegas dan langsung menutup sambungan telponku, walau sebenarnya hati ini tercabik, berdarah, dan bernanah karena ucapku itu.

Aku terus memandangi jam dindingku. Pukul 13.00. sudah lebih 4 jam dari saat ia menelponku tadi. Aku masih punya waktu 4 jam lagi dari sekarang untuk mengubah fikiranku. Siapa tahu ia akan menjelaskan semua yang terjadi padaku, atau Siapa tahu ia bermaksud menarik ucapannya dan kembali bersamaku? Tapi bagaimana dengan pernikahannya yang tinggal esok pagi? Aku tidak akan berani melukai keluarga besarnya dan keluarga besar Andrea yang telah susah payah membuat pesta pernikahan itu. Aku tidak boleh bersikap egois. Biarlah sakit ini kurasa seorang diri di sini. Dan akhirnya aku tetap pada pendirianku untuk tetap bertahan dalam luka. Tak melihatnya lagi mungkin akan menjadi penawar sakit hatiku.

Di antara jam-jam terberat itu ada perdebatan antara kelemahan hatiku melawan kerasnya ego dan harga diriku. Hati ini terus saja menarik-narikku untuk pergi menemui lelaki itu, tapi ragaku tertahankan oleh ego, aku bukan wanita lemah, aku tak boleh menemuinya.

5 menit sebelum pukul 17.00 akhirnya aku dapat berkompromi dengan egoku, hati dan perasaan ini tidak dapat lebih lama lagi kubohongi. Aku ingin bertemu dengannya. Dengan langkah cepat kuambil kunci mobil yang terletak di atas meja televisi. Ku tancapkan gas menuju kedai kopi itu, perjalanan yang lumayan jauh, aku tak yakin dapat bertemu dengannya namun aku tetap menancapkan gasku sekencang yang ku bisa.

Pukul 17.20 aku sampai di kedai kopi tempatnya menungguku, aku terlambat 20 menit. Smoga ia masih disini. Hari sudah sore, tapi kedai kopi ini masih saja ramai. Aku memanjangkan leher mencari-cari lelaki berbaju biru diantara tubuh-tubuh para bapak-bapak pejabat yang menghabiskan waktu luangnya dengan bercengkrama dengan rekannya ditemani segelas kopi hangat itu.

Aku belum jga menemukan sosoknya. Seorang waiters menghampiriku.

“Ada yang bisa saya bantu, mbak?” tanyanya ramah.

“saya mencari teman saya, ia berada disini sejak tadi pagi, kira-kira sejak pukul 9 tadi, apa mbak tahu keberadaannya sekarang?” tanyaku cemas.

“Oowh... lelaki berambut jabrik, tinggi, putih, dan memakai baju berwarna biru itu?”

“iya..iya...dmana dia?”

“Aduh... tapi kayaknya mbak terlambat. Dia sudah pergi sekitar 25 menit yang lalu.” jawabnya sambil melihat ke arah jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya.

Aku terlambat. Aku tak punya kesempatan lagi.

Dan akhirnya akupun pulang. Pulang untuk menjatuhkan air mata lagi. Pulang untuk bertekad melupakannya. Pulang untuk menghapus sgala memori tentangnya.dan pulang untuk membuang sgala perkataannya yang slama ini melekat di hati.

Sampaiku dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku di atas spring bed yang tertutupi seprei berwarna abu-abu itu. Kamarku masih saja berantakan, membuatku semakin pusing melihatnya. Akupun bangkit dari rebahanku, kupunguti satu per satu tisue-tisue yang berserakan di lantai maupun di atas tempat tidurku dan kemudian kubuang ketempat sampah yang juga berwarna abu-abu di sudut kamarku. Tak sengaja mataku bertabrakan dengan sebuah kertas merah didalam tempat sampahku. Aku tahu itu adalah undangan Gerald dan Andrea yang kubuang malam itu. Ku pungut. Kubuka plastik transparan yang membungkus undangan itu, Aku belum sempat membacanya sejak Gerald memberikannya padaku malam itu. Aku tahu ini kan menyakitkanku lagi, tapi aku tetap harus membukanya.

Kubuka undangan itu dengan hati bergetar. Disisi kirinya terdapat foto Lelaki biadab itu tengah berpegangan tangan dengan wanita bersepatu kaca itu dengan sangat mesra. Sekali lagi untuk kesekian kalinya air mataku tumpah ruah.

Aku terduduk tertunduk lemas di depan tempat sampahku memandangi undangan itu. Warna merahnya seolah menggambarkan merahnya hatiku yang terluka karena pernikahan itu, duri gambar mawar yang terukir dipojok kanan undangan itu seolah menusuk hatiku lebih dalam lagi.

Dengan sekuat tenaga kucoba untuk membacanya. “Selasa, 20 April 2010 pukul 19.00”.

'besok malam?? ia akan melangsungkan pernikahannya dengan wanita lain besok malam? Padahal seminggu yang lalu ia bersetubuh denganku.' ucapku dalam hati. Aku masih saja belum bisa menerima kenyataan ini.

Tak lama kemudian Handphoneku berbunyi. Dengan susah payah kuraih handphoneku yang kuletakkan di atas meja kerjaku.

“kiki?” suara wanita diseberang terdengar sangat cemas.

“iya, na!” jawabku. Ia adalah Helena. Sahabat baikku sejak pertama kali masuk kuliah.

“are you okay?” tanyanya memastikan. Sepertinya ia telah mendengar tentang pernikahan itu.

“I'm not okay, na.... aku yakin kamu sudah tahu tentang pernikahan itu.”

“ia... aku dengar dari temen-temen kampus. Sejak kemarin aku mencarimu tapi rupanya kau tidak ke kampus. Sejak kapan kau mengetahui rencana pernikahannya ini, ki?”

“2 hari yang lalu, na... dia mengakhiri hubungan kami dan langsung menyerahkan undangan pernikahannya itu. Aku rapuh, na.”

“Tenang ki... dalam 15 menit aku akan sampai di rumahmu.” ucapnya kemudian memutuskan sambungan telponnya.

Belum sampai 15 menit setelah telponnya di tutup, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ku buka dan benarlah ia adalah Helena. Ia mengenakan rok mini jeans dan t-shirt pinknya, membawa 2 kantongan plastik bertuliskan 2 nama toko baju favorite kami.

Dibukanya kantongan pertama, terlihat mini dress hitam yang glamour. Dan dilemparkannya padaku.

“untuk apa ini, na?” tanyaku heran. Sahabatnya lagi bersedih dia malah asik-asikan memamerkan hasil belanjaannya.

“pokoknya besok malam kau ikut denganku ke resepsi pernikahan lelaki bejat itu!”

“kau gila, na?? apa kata orang-orang nanti? Aku bakalan jadi bahan tertawaan mereka!” tolakku.

“Tidak, ki!!! justru mereka akan lebih mentertawakanmu kalau kau hanya diam saja dikamarmu yang sudah seperti kandang kambing ini, menangis meratapi nasibmu dan sadisnya perlakuan Gerald terhadapmu. Kau harus bangkit ki.... kau harus memperlihatkan sama semua orang kalau kau bukan wanita lemah. Pokoknya kau harus memperlihatkan sama si Kanibal hati itu kalau dia salah besar telah meninggalkanmu demi perempuan itu.”

Aku terkejut mendengar perkataan Helena barusan. Ada benarnya juga ucapan wanita centil ini.

“...” aku hanya bisa diam.

“hooy non...kok diam aja???” ditepuknya pundak kiriku untuk menyadarkanku dari lamunku. Ditariknya lenganku menuju cermin besar di pojok kamarku. “coba kau lihat mukamu! Mata sembab dan bengkak gini karena apa coba?? karena kau tidak bosan-bosannya mengasihani diri sendiri dengan mengurung diri dikamar dan nangis sejadi-jadinya. Buang-buang tenaga, buang-buang tisue!” celotehnya. Namun dalam hati aku membenarkan perkataannya. “Look at you ki! Kau cantik! Tidak ada alasan untuk kau tidak menghadiri pernikahan bangsat itu! Would you like to go with me?”

Entah mengapa kepalaku mengangguk sendiri tanpa meminta respon ke hati terlebih dahulu. Bibir Helena langsung mengembang menyambut anggukkanku.

“Okeh kalau begitu. Besok aku jemput jam setengah 7. Ingat, Tidak ada alasan untuk berubah keputusan!! Aku balik ya ki...” ucapnya tegas dan berlalu keluar meninggalkan kamarku.

Helena memang selalu seperti itu. Datang sebelum diundang dan pergi sebelum di usir.

Sebenarnya aku masih belum terlalu yakin akan keputusanku menghadiri pernikahan itu. Membayangkan rasanya saja aku ingin menangis. Tapi apa yang diucapkan Helena ada benarnya juga.


to be continue...

Senin, 17 Mei 2010

25 Minutes #3

Empat hari setelah kejadian malam itu, ia menelponku.

“Ki... bisa ketemuan?? ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu”

Hatiku bergetar. Sebuah tanda tanya besar terpampang dihadapanku. Hal penting apa yang membuatnya menelponku di tengah gelapnya malam seperti ini.

“iya... kita ketemuan di bukit tempat biasa... gak usah jemput, biar aku datang sendiri.” jawabku mengiyakan permintaannya.

Piyama biru mudaku menjadi penghangatku diperjalanan menuju bukit tempat kami sering bercengkrama. Aku hanya berjalan kaki, karena letak bukit itu tidak begitu jauh dari tempat tinggalku.

Kudapati ia ternyata telah berada disana. Dari jauh nampak wajahnya tak seperti biasanya. Ada yang tak beres sepertinya.

Perlahan aku mendekatinya yang masih belum sadar dengan kehadiranku. Ia masih duduk di atas motor bebeknya, tertunduk lemas.

Aku menyapanya dengan tanda tanya. Ia menoleh kearahku dan tersenyum tipis melihat kedatanganku lalu kami pun sibuk dengan diam kami masing-masing. Aku tak berani memulai untuk berkata. Ia yang mengajakku ke sini untuk membicarakan sesuatu, maka ialah yang seharusnya memulai pembicaraan ini.

2 menit, 3 menit, kutunggu tapi ia tak juga membuka suara. Rasa penasaran didada makin menjadi-jadi melihat kebisuannya. Akhirnya akulah yang sekali lagi mengalahkan egoku dan membuka suara menanyakan sebab kebisuannya itu.

“Ger... katanya kamu mau ngomong sesuatu. Kok daritadi cuman diem?” tanyaku penasaran.

Ia masih setia dengan kebisuan dan khayalnya sendiri. Tak menjawab sepatah katapun.

“Geeerrr.....jadi kamu nyuruh aku jauh-jauh ke sini cuman buat ngeliat kamu bengong gini??? kalo gitu aku balik!” emosiku memuncak. Aku bangkit dan berbalik hendak pergi. Tapi ditariknya lenganku.

Aku lantas menghentikan langkahku, tapi badanku tak berbalik sedikitpun menoleh kearahnya. Ia pun begitu. Tangannya masih menggenggam erat lengan kananku. Tapi kepalanya masih saja tertunduk lemas seperti tadi.

“ki.... sory..... kayaknya hubungan kita sampai disini saja”ucapnya pelan dan getir.

Saat itu hatiku bagaikan kerupuk yang dilindas oleh mesin pengaspal jalan. Bukan saja remuk dan retak, tapi hancur hampir menjadi layaknya debu. Aku tak dapat berkata apa-apa.

Kurasakan hangatnya airmata mengaliri pipiku, pipiku yang dulu pernah dicubitnya dengan gemas. Mengalir membasahi bibirku, bibirku yang dulu pernah dilumatnya dengan hangat.

Masih belum ada kalimat yang tertoreh setelah ucapannya tadi. Aku masih setia dalam kebisuan yang tadi kepunyaannya. Hatiku terlalu hancur mendengar kalimatnya tadi, hingga sepatah katapun terlalu berat untuk meluncur dari bibirku.

“Ki....aku minta maaf” ucapnya lagi, berharap akan ada sepatah kata yang terucap dari bibirku.

Aku masih membelakanginya. “Kenapa ger?? salahku apa?” tanyaku datar.

“kamu gak salah apa-apa. Aku yang salah.”

ditariknya tubuhku untuk menghadap ke arahnya. Aku masih belum berani menatapnya. Aku tak ingin ia melihat airmataku, aku tak pernah inginkan itu. Aku tak mau terlihat seperti wanita bodoh yang menangisi lelaki yang telah mengambil kesucianku.

“please... ngertiin aku.. aku sayang kamu ki... sungguh! Tapi aku tak bisa terus melanjutkan hubungan kita... aku tahu bagaimana beratnya perasaanmu, dan percayalah aku juga merasakan hal yang sama.” jelasnya.

Aku terus menundukkan kepalaku, karna airmata ini semakin deras mengalir, kugigit lidahku agar aku tak mengeluarkan suara, agar ia tak mendengar tangisku. Tapi ternyata ia menyadarinya. Diangkatnya wajahku dan dihapusnya airmataku.

“please.... jangan nangis ki.... air matamu terlalu berharga untukku. Aku tak mau lihat itu!”

“kau bodoh... bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak menangis karenamu?” ucapku emosi.

Lalu kemudian dipeluknya aku dengan erat. Aku dapat merasakan desahan nafasnya di telingaku. Aku tak ingin melepaskan pelukan ini. Tak akan pernah ingin melepaskannya. Tapi ia melepasnya.

Kulihat ia merogoh tas selempang yang sejak tadi ia kenakan. Mengambil sesuatu. Mungkinkah ia akan memberikanku novel “new moon” karya Stephenie Meyer yang pernah ia janjikan padaku itu dan kemudian menarik kembali perkataannya untuk berpisah tadi? Atau mungkinkah ia akan memberiku sekotak coklat untuk membujukku agar tidak menangis, seperti yang pernah ia lakukan saat pemakaman ibuku dulu?

Tapi rupanya aku salah besar. Ia mengeluarkan selembar undangan berwarna merah, berlapis plastik transparan. Ia menyodorkannya ke arahku. Ku baca disudut kiri bawahnya, “Gerald & Andrea”.

“Besok lusa. Aku sangat mengharapkan kedatanganmu” ucapnya seraya menyodorkan undangan merah itu.

Tanganku bergetar menerima undangan itu. Kuremas untuk melampiaskan emosi dan sakit hati didada. Lututku lemas. Aku benar-benar tak tahan untuk berdiri lebih lama lagi dihadapan pria sadis ini. Ia telah dengan tega memutilasi hatiku setelah ia rajam dengan pisau penghianatan berupa undangan merah yang bak sampah dimataku. Aku berlari pulang tanpa mengacuhkannya yang berteriak memanggilku setelah ia sakitiku seperti ini. Aku bukan wanita murahan yang dengan rela berbalik arah kepadamu setelah kau bunuh hati ini.

Aku terus berlari menuju rumahku. Kali ini kurasakan jarak ke rumahku menjadi berlipat-lipat kali lebih jauh dari biasanya. Air mataku masih saja menghiasi pipi, bahkan makin deras ia mengalir. Berpuluh-puluh pasang mata menatap heran padaku, aku tak perduli.

Minggu, 02 Mei 2010

25 Minutes #2

tersebutlah ia, Gerald. Lelaki yang paling kusayangi setelah ayah dan ketiga kakakku. Ia mengisi hampir separuh usiaku. Sahabatku sejak kami masih belia, dan menjadi kekasihku saat kami remaja, bahkan hingga ku dewasa.

Seminggu sebelum pernikahan tiba-tibanya dengan wanita bersepatu kaca itu -begitu aku menyebutnya, ia pernah mengucapkan satu kalimat yang takkan pernah akan ku lupa.

Saat itu aku belum tahu apa-apa dengan rencana pernikahan itu. Kami duduk berdua di bukit tak jauh dari rumahku. Hijau rerumputan yang mengenai kaki kami tak lagi terasa gatal. Angin ini pun seolah menggambarkan kegembiraanku bertemu dengannya.

Ia menatapku dengan tatapan kosong. Aku tak cukup pandai untuk menterjemahkan arti tatapannya itu.

“ki... apa kamu masih akan tetap menyayangiku saat ku ada di jalan yang salah nantinya?” tanyanya.

“ngomong apa sih ger?”

“ng...ngga...ngga kenapa-kenapa kok...aku cuman pengen bilang, kalo aku akan selalu mencintaimu dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Apa kau juga begitu?”

“.....” aku hanya terdiam mendengar ucapannya barusan.

“kok diam??aku butuh jawabanmu,ki!”

“aku rasa aku gak perlu menjawabnya, karena aku tahu kamu tahu apa yang kurasa saat ini. Toh kamu sendiri tahu kalau buatku perasaan itu untuk dirasakan bukan untuk diumbar dengan kata-kata.” jawabku sok diplomatis.

Angin yang berhembus meniup rambut kita membuat badan terasa kaku dan beku. Ia menatapku sekali lagi. Tak berapa lama akhirnya ia melumat bibirku dengan lembut. Tangannya pun menjalar ke tengkukku kemudian dadaku. Dan kami tak terelakkan untuk jatuh kedalam percintaan hangat dan membara itu lagi. Untuk kesekian kalinya.

Setiap kali melakukannya ada rasa bersalah yang teramat sangat. Tapi disisi lain aku juga tak dapat menolak kehangatan yang ia tawarkan.

Malam itu aku terbang melayang dibuatnya. Sepenuh hati ku yankinkan diriku hanya untuknya.

Hubungan kami telah terjalin begitu lama. Gerald telah mengenal kedua orang tuaku dengan sangat baik. Begitupun denganku. Aku sangat berharap kelak kami akan menjadi keluarga kecil yang bahagia.

.... to be continue .....

Sabtu, 01 Mei 2010

25 Minutes #1

Aku tak dapat menafikkan bahwa wajahku pucat pasi melihat kejadian di hadapanku. Hatiku bagaikan daging ham dimulut baunya, digigitnya hatiku, dikunyahnya aku hingga lumat....lalu ditelannya sesuka hatinya.

Aku tak ada bedanya dengan seekor keledai ditengah kumpulan kuda pacuan, tak berarti apa-apa kecuali sebagai bahan tertawaan mereka. Bibirku kelu, kaku, beku, atau apalah itu namanya. Aku tak sanggup lagi berkata. Lututku lemas. Pipiku memerah seolah habis tertampar tangan lentik wanita yang bersanding dengannya itu. Aku rapuh berada disini.

Aku masih berdiri disini berharap ia kan berbalik menoleh ke arahku dan berlari mengejarku. Tapi itu hanyalah kejadian yang berada dalam ruang imajinasiku saja. Pada kenyataannya aku hanya dapat mematung disini melihatnya tersenyum bahagia dengan wanita itu. Wanita yang jauh lebih sempurna dariku. Wanita yang banyak didambakan lelaki-lelaki yang ada.

Ada sesal yang menyertai kehadiranku malam ini. Betapa bodohnya aku datang kepernikahan mantan pacarku, atau lebih tepatnya (masih) pacarku. Aku hanya akan menambah luka baru dalam hatiku padahal lukanya yang dulu bahkan belum sembuh. Perih.

Berulang kali ku coba memutar fikirku guna meluruskan hatiku. Berulang kali kucoba berkata bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tapi berulang kali juga kutersakiti karena tersadar bahwa semua ini nyata adanya.


.... to be continue....